Pendidikan : Resensi penumpasan pengkhianatan 3O S PKI
PENDIDIKAN : Resensi Penumpasan
Pengkhianatan G 30 S PKI
Resensi
Film Dokumenter
Nama : Esteria pardosi
Kelas : 1EA05
NPM : 12219075
Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar
Daftar isi
·
1.Alur
LATAR BELAKANG
Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI dibuat
berdasarkan pada versi peristiwa kudeta yang diakui oleh pemerintah Orde Baru Soeharto, di
mana kudeta Gerakan 30 September didalangi oleh Partai Komunis Indonesia atau PKI.[b][4] Pada
awal 1960-an, PKI dan partai-partai sayap kiri lainnya
mendapat dukungan dari Presiden Soekarno,
memberi mereka kekuatan politik yang besar. Pada tahun 1965 PKI telah mempunyai
jutaan anggota, jumlah semakin besar ini dipengaruhi oleh adanya hiperinflasi dan kemiskinan
yang meluas.[5] TNI Angkatan Darat, bagaimanapun, telah saling
tidak sejalan dengan PKI, sebuah situasi yang berbalas dengan PKI.[6]
"Sumur Maut", tempat pembuangan mayat para
jenderal oleh Gerakan 30 September
Pada malam 30 September - 1 Oktober 1965 sekelompok
personel Tentara Nasional Indonesia yang
menyebut diri mereka "Gerakan 30 September" menangkap dan membunuh
enam jenderal Angkatan Darat yang diduga anggota gerakan anti-revolusioner
"Dewan Jenderal", termasuk Panglima Angkatan
Darat Ahmad
Yani; target lain, Abdul Haris Nasution, lolos.[7] Tubuh
mereka, bersama dengan target lain yang ditangkap oleh G30S, dibuang ke dalam
sumur di Lubang Buaya, Jakarta.[8] Paginya,
angkatan bersenjata menduduki Lapangan
Merdeka di Jakarta Pusat. Dari Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) di
sana, Letnan Kolonel Untung
Syamsuri dari Resimen Pengawal Presiden mengumumkan
bahwa gerakan itu telah mengamankan beberapa tempat penting di kota dalam upaya
untuk mencegah kudeta oleh Dewan Jenderal. Mereka juga mengumumkan bahwa
Presiden Soekarno berada di bawah kekuasaan mereka.[9] Inti
kepemimpinan gerakan ini, kemudian juga termasuk Presiden Soekarno, tinggal di
pangkalan AURI di Bandara Halim Perdanakusuma.[10]
Mayor Jenderal Soeharto, menyadari gerakan ini pada pagi
hari 1 Oktober. Menjelang sore ia telah meyakinkan sebuah batalyon G30S di
Lapangan Merdeka dan yang menduduki gedung RRI untuk menyerah, tanpa
pertumpahan darah. Tentara loyalis di bawah Soeharto merebut kembali pangkalan
AURI Halim pagi berikutnya. Pada saat itu pimpinan G30S telah melarikan diri,
sementara Soekarno telah dibawa kembali ke istananya di Bogor.[11] Dalam
tahun-tahun berikutnya, Angkatan Darat Indonesia dan masyarakat umum melakukan
sebuah kampanye pembalasan berdarah,
membunuh atau menangkap orang-orang yang terdaftar maupun hanya diduga sebagai
simpatisan PKI - termasuk sebagian besar pimpinan G30S.[c][12]
Alur
Indonesia berada dalam kekacauan. Rakyat hidup dalam
kemiskinan, sementara yang kaya memamerkan kekayaan mereka. Presiden Soekarno (Umar Kayam)
sedang sakit dan hampir mati. Sementara itu, konsep politiknya, Nasakom (nasionalisme,
agama, dan komunisme) telah menyebabkan pertumbuhan besar anggota PKI. Partai
yang mencoba melakukan kudeta
pada tahun 1948 ini telah menyerang dan membunuh orang di seluruh
negeri. Presiden yang telah melemah juga dimanipulasi oleh partai ini. PKI
telah merekayasa cerita, berdasarkan Dokumen
Gilchrist yang palsu, bahwa Dewan Jenderal sedang mempersiapkan kudeta
bila Soekarno mati. Aidit (Syubah Asa), Syam,
dan kepemimpinan Partai Komunis diam-diam berencana untuk menggunakan ini
sebagai alasan untuk kudeta mereka sendiri. Pangkat dan barisan anggota Partai
ini menerima penjelasan dari pimpinan, dan dengan bantuan para prajurit dan
perwira yang "berpikiran-maju" (sebagian besar dari Angkatan Udara),
bekerja untuk mengumpulkan kekuatan Partai. Mereka berencana untuk menculik
tujuh jenderal (yang dikatakan sebagai anggota Dewan Jenderal), merebut kota,
dan mengamankan Soekarno. G30S yang baru diberi nama kemudian memulai
pelatihan. Para anggota sayap kanan dalam Angkatan Darat yang tidak
menyadari kudeta yang akan terjadi ini, hidup bahagia dengan keluarga mereka.
Pada saat mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, mereka sudah
terlambat.
Abdul Haris Nasution digambarkan
melarikan diri dari upaya kudeta tersebut dengan melompati tembok.
Pada malam 30 September-1 Oktober, tujuh unit dikirim untuk
menculik para jenderal yang terkait dengan Dewan Jenderal tersebut. Jenderal
Abdul Harris Nasution (Rudy Sukma) berhasil melarikan
diri melompati tembok, namun putrinya Ade Irma Suryani Nasution (Keke Tumbuan) justru
tertembak, sementara atase militer Pierre
Tendean (Wawan Wanisar) datang berlari keluar, memegang
pistol; Tendean dengan cepat ditangkap, dan ketika ditanya di mana Nasution,
mengaku dirinya adalah jenderal tersebut. Yani, yang melawan, tewas di
rumahnya; Mayor Jenderal MT Haryono mendapat nasib yang sama. Kepala Jaksa
Militer Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen Siswondo
Parman, dan Letnan Jenderal Soeprapto ditangkap.
Brigadir Jenderal DI Pandjaitan ikut dengan rela, tetapi ketika
dia berdoa terlalu lama sebelum memasuki truk dia dibunuh. Mayat dan tahanan
yang dibawa ke kamp G30S/PKI di Lubang Buaya, di mana para korban yang tersisa
disiksa dan dibunuh. Tubuh mereka kemudian dilemparkan ke dalam sumur. Pagi
berikutnya, anak buah Letnan Kolonel Untung mengambil alih kantor RRI dan
memaksa staf di sana untuk membaca pidato Untung (Bram
Adrianto) yang menyatakan bahwa G30S telah bergerak untuk mencegah kudeta
oleh Dewan Jenderal dan mengumumkan pembentukan "Dewan
Revolusi". Anak buah G30S/PKI lain pergi ke istana untuk mengamankan
presiden tetapi menemukan bahwa ia telah pergi meninggalkan istana. Di
pangkalan Halim, Presiden berbicara dengan para pemimpin G30S dan menyatakan
bahwa ia akan mengambil kontrol penuh dari Angkatan Darat. Pidato radio lain
kemudian segera dibacakan, menguraikan komposisi Dewan Revolusi yang baru dan
mengumumkan perubahan hierarki Angkatan Darat. Para pemimpin G30S mulai
merencanakan pelarian mereka dari Halim, yang harus dilakukan sebelum tengah
malam.
Soeharto (Amoroso
Katamsi), yang dibangunkan pagi buta, membantah pengumuman Untung,
menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada Dewan Jenderal dan membuat
catatan-catatan tambahan tentang hakikat G30S. Karena ada kekosongan kekuasaan dengan meninggalnya
Yani, Soeharto mengambil kendali sementara Angkatan Darat dan mulai
merencanakan serangan-balik dengan anak buahnya; namun bagaimanapun dia tidak
mau memaksakan pertempuran. Dia malah menyatakan bahwa ia akan memberikan
pengumuman lewat radio, yang disampaikan setelah pasukan yang setia kepadanya
merebut kantor RRI. Pengumuman ini menguraikan situasi kala itu, menggambarkan
G30S sebagai kontra-revolusioner, dan menyatakan bahwa Angkatan
Darat akan berurusan dengan kudeta ini. Tak lama kemudian para pemimpin kudeta
melarikan diri dari Halim, dan pasukan Soeharto merebut kembali pangkalan udara
tersebut. Beberapa waktu kemudian, pasukan di bawah kepemimpinan Soeharto
menyerang sebuah markas G30S/PKI. Sementara tentara yang berafiliasi dengan PKI
melawan, pimpinan Partai lolos dan melarikan diri, berencana untuk melanjutkan
perjuangan mereka di bawah tanah.
Soeharto kemudian segera dipanggil ke istana kedua di Bogor
untuk berbicara dengan Soekarno. Di sana, presiden mengatakan bahwa ia telah
menerima jaminan dari Marsekal Udara Omar Dani bahwa
Angkatan Udara tidak terlibat dalam kudeta ini. Soeharto membantah pernyataan
tersebut, mencatat bahwa persenjataan gerakan ini adalah seperti orang-orang
dari Angkatan Udara. Pertemuan ini akhirnya menghasilkan konfirmasi
pengangkatan Soeharto sebagai pemimpin Angkatan Darat, bekerja sama
dengan Pranoto Reksosamodra. Dalam investigasi mereka
terhadap peristiwa kudeta ini, Angkatan Darat menemukan kamp di Lubang Buaya -
termasuk tubuh para jenderal, yang dikeluarkan sembari Soeharto menyampaikan
pidato menggambarkan kudeta ini dan peran PKI di dalamnya. Jenazah para
jenderal kemudian dimakamkan di tempat lain dan Soeharto memberikan
pidato hagiografi, di mana ia mengutuk G30S PKI dan dan mendesak
masyarakat Indonesia untuk melanjutkan perjuangan jenderal-jenderal yang telah
meninggal tersebut.
PRODUKSI
Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI disutradarai
oleh Arifin C. Noer, sutradara pemenang Piala Citra dengan
latar belakang teater. Dia memiliki pengalaman sebelumnya dalam genre ini,
setelah membuat film perang Serangan
Fajar (1981), yang menekankan peran Soeharto dalam Revolusi Nasional Indonesia.[13] Noer
ditugaskan untuk mengerjakan film ini oleh Pusat Produksi Film Negara (PPFN)
milik negara, yang mempunyai kontrol atas proses produksi film ini. Profesor
budaya Indonesia Krishna Sen dan David T. Hill berpendapat bahwa masukan
kreatif Noer sangat minim dalam film ini. Sebaliknya, "untuk segala maksud
dan tujuan", film ini adalah karya produsernya, Brigadir Jenderal Gufran
Dwipayana, yang kala itu menjabat sebagai kepala PPFN sekaligus anggota
staf kepresidenan.[14] Namun,
istri Noer, Jajang C. Noer bersikeras bahwa suaminya tetap
bersikap independen saat pembuatan film ini.[15]
Film tersebut berdasarkan pada sebuah laporan yang ditulis
oleh Nugroho Notosusanto (gambar) dan Ismail
Saleh.
Skenario Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI didasarkan
pada sebuah buku tahun 1968 yang ditulis oleh sejarawan militer Nugroho Notosusanto dan penyidik Ismail
Saleh yang berjudul Tragedi Nasional Percobaan Kup G 30 S/PKI
di Indonesia. Buku yang dimaksudkan untuk melawan teori asing tentang
kudeta tersebut, menjelaskan secara rinci Gerakan September 30 ini sebagaimana
pemerintah melihatnya.[16] Hanya
Notosusanto, yang berpangkat lebih tinggi dari dua penulis tersebut, dihargai
untuk kontribusinya.[17] Dalam
mengadaptasi buku tersebut, Noer membaca banyak literatur yang tersedia
(termasuk dokumen pengadilan) dan mewawancarai sejumlah saksi mata;[18] Jajang,
dalam sebuah wawancara tahun 1998, mengatakan bahwa suaminya tidak hanya
membaca versi resmi pemerintah, tetapi juga dokumen Cornell
Paper yang kontroversial, yang menggambarkan bahwa peristiwa
kudeta ini sepenuhnya merupakan urusan intern Angkatan Darat.[15] Selama
syuting, kru menekankan realisme, "memberikan perhatian besar terhadap
detail" dan menggunakan rumah sebenarnya dari para jenderal yang diculik
dalam peristiwa tersebut.[19]
Karena besarnya jumlah peran - termasuk beberapa bagian
100 peran
kecil dan lebih dari 10.000 pemeran
tambahan[20] - casting atau
pencarian pemeran untuk Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI adalah
sulit.[21] Noer
mencoba untuk menempatkan aktor yang mirip dengan tokoh-tokoh sejarah yang
digambarkan; Rano Karno kemudian mengingat bahwa ia ditolak
untuk peran Pierre Tendean karena Tendean tidak
memiliki tahi lalat di wajahnya.[22] Pada
akhirnya film ini dibintangi Bram
Adrianto sebagai Untung
Sjamsuri, Amoroso Katamsi sebagai Soeharto, Umar Kayam sebagai Soekarno,
dan Syubah
Asa sebagai DN Aidit; aktor lainnya antara lain Ade Irawan, Sofia WD,
Dani Marsuni, dan Charlie Sahetapy.[23] Kayam,
kala itu seorang dosen di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta,
tidak punya waktu untuk meriset perilaku Soekarno dari buku-buku dan pidatonya;
sebagai gantinya, ia menggambarkan presiden tersebut berdasarkan testimonial
dari staf di Istana Bogor. Katamsi, di sisi lain, mempelajari peran Soeharto
dari buku, dan pada saat syuting telah dimulai, merasa seolah-olah dia
"sebagai Pak Harto, bukan imitasi Pak Harto."[24] Sementara
itu, Syubah Asa menganggap kurang menguasai penampilannya sendiri.[24]
Produksi Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI,
awalnya berjudul Sejarah Orde Baru, memakan waktu hampir dua tahun,
menghabiskan empat bulan dalam pra-produksi dan
satu setengah tahun dalam pembuatan film.[15] Biaya
film ini Rp. 800
juta,[d][25] mendapat
pendanaan dari pemerintah kala itu.[3] Sinematografi
film ini ditangani oleh Hasan Basri, dengan penataan musik oleh saudara Arifin,
Embie C. Noer. Penyuntingan film dilakukan oleh Supandi.[26] Bagian
dari film, khususnya sepuluh menit akhir, menggunakan kembali rekaman
arsip dan kliping koran kontemporer kala itu yang sehubungan peristiwa
tersebut.[27]
TEMA
Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI menggambarkan
PKI dan komunisme sebagai jahat pada dasarnya, dengan pengikutnya "tidak
bisa diselamatkan",[28] di
mana pimpinan G30S dipandang sebagai licik dan kejam, dan merencanakan
"setiap langkah dengan terperinci".[1] Sejarawan
Katherine McGregor menemukan hal ini ditekankan dalam film ini yang
menggambarkan pimpinan G30S sebagai gangster, duduk dalam pertemuan rahasia di
tengah-tengah kepulan asap rokok. Dia juga menganggap sebuah adegan pembuka
film, di mana PKI menyerang sebuah sekolah Islam, juga dengan sengaja
dimaksudkan untuk menunjukkan sifat "jahat" komunis.[19]
PKI digambarkan menikmati kekerasan, dengan film ini sangat
menampilkan adegan "perempuan yang mencungkil mata dan tubuh yang membusuk
dan disiksa".[29] Para
jenderal diculik, dan dalam beberapa kasus tewas dibunuh di depan keluarga mereka;
kemudian jenderal yang ditangkap disiksa saat komunis menari di sekitar api
unggun.[30] Sosiolog
Adrian Vickers berpendapat bahwa kekerasan film ini dimaksudkan untuk
menggambarkan bahwa "musuh-musuh negara ada di luar alam manusia",
mirip dengan monster dalam sebuah film horor.[e][2] Yoseph
Yapi Taum dari Universitas Sanata Dharma mencatat
bahwa anggota gerakan perempuan sayap kiri Gerwani disajikan
film ini sebagai bagian dari Partai Komunis yang "gila", menari
telanjang dan memotong penis jenderal yang diculik.[31] Namun,
Vickers menganggap penggambaran ini sebagai ambigu, menunjukkan bahwa
pemerintahan Orde Baru diizinkan memonopoli kekerasan.[2] McGregor
menunjukkan bahwa kekerasan yang terjadi di rumah yang sebelumnya tenang
menunjukkan "'penghancuran' keluarga".[30] Sen
mencatat bahwa kekerasan dalam film ini memungkiri "representasi kekacauan
sebelum keteraturan" yang umum dalam film-film era Orde Baru.[30]
PenayangaN
Sebelum penayangan komersialnya, Penumpasan
Pengkhianatan G 30 S PKI disajikan pra-tayang untuk para perwira
militer Indonesia berpangkat tinggi yang telah terlibat dalam operasi
menghentikan kudeta G30S, termasuk Soeharto dan Sarwo Edhie Wibowo.[19] Film
ini dirilis secara komersial pada tahun 1984, sebagai film domestik pertama
yang dirilis secara komersial tentang peristiwa 1965 tersebut.[f][32] Film
ini ditonton oleh 699.282 orang di Jakarta pada akhir tahun 1984, sebuah rekor
nasional yang tetap tak terlampaui selama lebih dari satu dekade.[g][4] Namun,
tidak semua pemirsanya hadir atas kemauan mereka sendiri. Sosiolog Ariel
Heryanto mencatat bahwa murid sekolah Indonesia "diminta untuk
membayar" untuk melihat film ini selama jam sekolah, sebuah fakta yang
tidak ditulis dalam catatan kontemporer kala itu.[33] Sebuah
novelisasi oleh penulis fiksi
populer Arswendo Atmowiloto juga telah membantu
mempromosikan film ini.[34]
Pengaruh produser Dwipayana memastikan bahwa ulasan dan
tinjauan kontemporer kala itu, terutama sinopsis, mengulangi posisi pemerintah
tentang kudeta G30S.[3] Hal
ini bukan untuk mengatakan bahwa semua ulasan kritis tentang film ini haruslah
positif. Marselli dari harian KOMPAS misalnya,
menemukan bahwa film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI adalah
sangat rinci, dengan pengerjaan yang luas dan kualitas akting akan mewakili
peristiwa secara akurat. Namun dia merasa, bahwa film ini terasa terlalu
panjang, dan karena pemirsa langsung tahu siapa karakter yang baik dan buruk,
film ini menjadi "...hanyalah lukisan hitam-putih tanpa persoalan
kompleks.", yang mengabaikan masalah mendasar yang telah memicu
gerakan G30S.[27]
Soeharto, setelah melihat penayangan awal film ini,
menyatakan bahwa cerita film ini belum selesai dan menyarankan bahwa sebuah
sekuel diperlukan.[35] Dua
sekuel oleh PPFN, Operasi Trisula (1987) dan Djakarta
1966 (1988) kemudian mengikuti.[36] Operasi
Trisula disutradarai oleh BZ
Kadaryono, menceritakan tentang pemberantasan G30S dan anggota PKI di Blitar, Jawa Timur.[37] Sementara Djakarta
1966 disutradarai kembali oleh Noer dan menunjukkan peristiwa
menjelang penandatanganan Supersemar pada 11 Maret 1966, di mana Soekarno
memberikan wewenang pada Soeharto untuk mengambil tindakan apapun yang
"dianggap perlu"; Kayam dan Katamsi kembali mengambil peran mereka
dalam film sekuel ini, yang memenangkan tujuh penghargaan di Festival Film Bandung 1989.[38]
Pada September 1998, Menteri Penerangan Yunus
Yosfiah menggambarkan film ini sebagai upaya untuk menciptakan
pengkultusan Soeharto (gambar).
Penggunaan sebagai propaganda
Dimulai pada tahun 1984 pemerintah Orde Baru
menggunakan Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI sebagai
kendaraan propaganda, menayangkan film ini setiap tanggal 30 September. Film
ini disiarkan oleh jaringan TVRI milik negara, dan kemudian juga stasiun televisi
swasta setelah mereka didirikan.[39] Film
ini juga ditayangkan di sekolah-sekolah dan lembaga pemerintah;[40] para
siswa akan dibawa ke lapangan terbuka untuk melihat film ini dalam kelompok.[41] Karena
penggunaan ini, Sen dan Hill berpendapat bahwa Penumpasan Pengkhianatan
G 30 S PKI adalah film Indonesia yang paling-disiarkan dan paling
banyak ditonton sepanjang masa.[40] Sebuah
survei tahun 2000 yang dilakukan oleh majalah TEMPO Indonesia
menemukan bahwa 97 persen dari 1.101 siswa yang disurvei telah menyaksikan film
ini; bahkan 87 persen dari mereka telah menyaksikan lebih dari sekali.[42]
Selama sisa era 1980-an dan awal 1990-an, akurasi
sejarah Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI hanya sedikit
diperdebatkan,[43] dan
film ini menjadi wakil kanun sejarah;[44] versi
kejadian tahun 1965 dalam film ini adalah satu-satunya yang diperbolehkan dalam
wacana terbuka kala itu.[16] Namun
pada pertengahan 1990-an, komunitas internet anonim dan
publikasi-publikasi kecil mulai mempertanyakan isi film tersebut; satu pesan
yang dikirim melalui milis bertanya "Jika hanya sebagian kecil dari
kepemimpinan PKI dan agen militer mengetahui [kudeta, seperti di film ini],
bagaimana bisa lebih dari satu juta orang tewas dan ribuan orang yang tidak
tahu harus dipenjarakan, diasingkan, dan kehilangan hak-hak sipil mereka?"[43] Heryanto
berpendapat bahwa hal ini dihasilkan dari polifoni yang
tidak disengaja dalam film ini,[45] sementara
Sen dan Hill berpendapat bahwa Noer mungkin telah menyadari maksud pemerintah
untuk berpropaganda dan dengan demikian membuat pesan politik dalam film ini
"jelas-jelas bertentangan".[46]
Pada bulan September 1998, empat bulan setelah jatuhnya
Soeharto, Menteri Penerangan Yunus
Yosfiah menyatakan bahwa film ini tidak akan lagi menjadi bahan
tontonan wajib, dengan alasan bahwa film ini adalah usaha untuk memanipulasi sejarah
dan menciptakan kultus dengan Soeharto di tengahnya. TEMPO melaporkan pada 2012
bahwa Saleh Basarah dari Angkatan Udara telah
mempengaruhi dikeluarkannya keputusan ini. Majalah ini menyatakan bahwa Basarah
telah menghubungi Menteri Pendidikan Juwono
Sudarsono dan memintanya untuk tidak menayangkan Pengkhianatan
G 30 S PKI, karena film ini telah merusak citra Angkatan Udara Republik Indonesia.
Dua film lainnya, Janur Kuning (1979) dan Serangan
Fajar, kemudian juga dipengaruhi oleh keputusan tersebut;[47] Janur
Kuning menggambarkan Soeharto sebagai pahlawan di balik Serangan Umum 1 Maret 1949,
sementara Serangan Fajar menunjukkan dia sebagai pahlawan
utama Revolusi Indonesia.[48] Pada
saat itu TVRI tampaknya berusaha untuk menjauhkan diri dari mantan presiden
Soeharto.[15] Hal
ini terjadi semasa periode penurunan status simbol-simbol yang berkaitan dengan
peristiwa G30S, dan pada dekade 2000-an awal, versi non-pemerintah dari
peristiwa kudeta G30S mudah didapatkan di Indonesia.[49]
Foto pengambilan mayat para jenderal di Lubang Buaya,
diambil wartawan Hendro Subroto, 3 Oktober 1965.
Peninggalan
Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI telah
terbukti menjadi film Noer yang paling kontroversial,[50] meskipun
sampai kematiannya pada tahun 1995 sutradara ini tetap ambivalen secara publik
tentang film ini.[51] Meskipun
aspek visual film ini umumnya menerima ulasan positif, penggunaannya untuk
tujuan propaganda dan aspek akurasi-sejarahnya telah menuai banyak kecaman.[52] Sutradara
Indonesia Hanung Bramantyo memuji gaya film ini,
menyatakan bahwa gambar close-up (gambar dekat) dari pria yang
merokok adalah "brilian", dan bahwa dalam beberapa kala, dia merasa
bahwa "itu bukan film. Tapi real!".[53] Sutradara Monty Tiwa juga
memuji gambar film ini, mengutip sebuah adegan di mana putri Pandjaitan itu
menangis histeris saat ayahnya ditembak sebagai "efek dramatis yang tinggi
dan shot yang belum pernah saya lihat dalam film
Indonesia".[53] Namun
Sen dan Hill menemukan "tidak ada keunggulan estetika" dari karya-karya
lain sutradara ini.[46]
Hilmar Farid, seorang sejarawan Indonesia, menyebut
film ini sebagai sebuah propaganda yang dicampur dengan "sejumlah fantasi
[dari Orde Baru]".[54] Wartawan Hendro
Subroto, yang meliput pengambilan mayat para jenderal dari Lubang Buaya,
mengkritik akurasi film ini pada tahun 2001; ia menyatakan bahwa mayat-mayat
tersebut tidak menunjukkan bukti adanya penyiksaan.[52] Sementara
itu, mantan penulis Lekra Putu
Oka Sukanta menggambarkan film ini sebagai sebuah pengecilan
penderitaan para anggota PKI dan kaum kiri lainnya dalam peristiwa yang
mengikuti peristiwa G30S, sehingga menjadi "pembohongan pada
masyarakat".[55] Sejarawan
John Roosa berpendapat bahwa penggambaran peristiwa G30S dalam film ini seperti
telah mengalahkan diri film ini sendiri, karena menurut dokumen yang ditulis
Brigadir Jenderal Soepardjo (salah satu tokoh kunci G30S), operasi
kudeta ini dipimpin oleh orang-orang yang "keheranan, ragu-ragu, dan tidak
terorganisir".[1]
Dalam sebuah wawancara 2012, Katamsi mengakui bahwa film ini
sebagian dimainkan dengan berlebih-lebihan, dan bahwa film ini telah menjadi
cara yang ampuh untuk menyebarkan dan mengindoktrinasi pemirsa ke dalam
ideologi Orde Baru.[56] Survei TEMPO berpendapat
bahwa film ini adalah propaganda yang efektif, mengarahkan pengulas untuk
"menolak semua yang berbau PKI dan komunis."[54] Meskipun
tidak lagi disiarkan setiap 30 September, film ini tetap tersedia di pasaran.
Sebuah edisi video CD dirilis oleh Virgo pada tahun 2001[36] dan
museum G30S/PKI di Lubang Buaya tetap menawarkan pemutaran rutin film di
bioskop setempat.[57] Kedua
kopi 35 mm dan VHS film ini
disimpan di Sinematek Indonesia di Jakarta.[4]
Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI menerima
tujuh nominasi dalam Festival Film Indonesia 1984,
memenangkan satu penghargaan Citra untuk Skenario Terbaik.[58] Film
ini kalah dalam empat kategori, sebagai Sutradara Terbaik, Sinematografi
Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, dan Penataan Musik Terbaik, oleh
film Budak Nafsu karya Sjumandjaja,[59] sementara Ponirah
terpidana karya Slamet
Rahardjo memenangi Penataan Artistik Terbaik.[60] pada Festival Film Indonesia 1985 Penumpasan
Pengkhianatan G 30 S PKI menerima Piala Antemas (Penghargaan Khusus)
sebagai Film Unggulan Terlaris periode 1984-1985.[58] Pengamat
film Thomas Barker berpendapat bahwa penghargaan film tersebut, sebagian
merupakan gabungan dari kepentingan negara dan FFI: keduanya berfokus pada
mempromosikan budaya nasional yang bersatu.[61]
PENGHARGAAN
Penghargaan
|
Tahun
|
Kategori
|
Penerima
|
Hasil
|
1984
|
–
|
Nominasi
|
||
Arifin C. Noer
|
Nominasi
|
|||
Skenario Terbaik
|
Arifin C. Noer
|
Menang
|
||
Sinematografi Terbaik
|
Hasan Basri
|
Nominasi
|
||
Penataan Artistik Terbaik
|
Farraz Effendy
|
Nominasi
|
||
Penataan Musik Terbaik
|
Embie C. Noer
|
Nominasi
|
||
Amoroso Katamsi
|
Nominasi
|
|||
1985
|
Film Terlaris
|
–
|
Menang
|
- The Year of Living Dangerously,
film kolaborasi Australia - Hollywood tahun
1982 dengan latar belakang peristiwa yang sama.
- Puisi Tak Terkuburkan, film
Indonesia tahun 2000 yang menceritakan penyair yang salah ditangkap karena
diduga seorang komunis.
- Jagal,
film dokumenter tahun 2012 tentang pembantaian terduga komunis di Sumatra
Utara setelah peristiwa G30S.
- ^ Juga
ditulis Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI dan Penumpasan
Pengkhianatan G-30-S/PKI
- ^ Beberapa
teori alternatif telah dikemukakan. (McGlynn
& Sulistyo 2007, hlm. 6–8), contohnya, catatan tentang empat
teori alternatif yang menggambarkan kudeta sebagai urusan intern Angkatan
Darat, atau didalangi oleh Soekarno, Soeharto, atau Badan Intelijen Negara.
- ^ Sebagian
perkiraan menyebutkan total korban meninggal 500.000, meskipun jumlah ini
bervariasi dan jumlah total sebenarnya mungkin tidak akan pernah
diketahui (Ricklefs
1993, hlm. 288–290).
- ^ Kira-kira
setara dengan AS$ 1.000.000 pada Maret 1984. Ketika Penumpasan
Pengkhianatan G 30 S PKI diproduksi, rupiah berada di nilai
mengambang tetapi sedang mengalami depresiasi; pada Maret 1983 nilainya
sebesar Rp. 970 terhadap AS$, namun pada bulan September 1986 sebesar Rp.
1.664 terhadap AS$(CUHK
2000, Historial Exchange Rate).
- ^ Hal
ini, (Vickers
2012, hlm. 63–64) menunjukkan, menghubungkan "horor
individu" dalam film-film horor terhadap masalah sosial yang lebih
luas seperti komunisme.
- ^ (Sen
1994, hlm. 81) mencatat sebuah film produksi dalam negeri
sebelumnya mengenai kudeta G30S berjudul Operasi (1968),
namun film ini tidak pernah ditayangkan secara komersil.
- ^ Kala
itu, film apapun yang ditonton oleh lebih dari 200.000 orang dianggap
sebagai film yang "sangat laris"; tujuh film yang diproduksi
pada tahun 1984 mencapai patokan ini (Kompas
1984, 'Pengkhianatan G30S/PKI').
Referensi.
- ^ a b c Roosa
2006, hlm. 98.
- ^ a b c Vickers
2012, hlm. 63–64.
- ^ a b c Sen
& Hill 2006, hlm. 147.
- ^ a b c Filmindonesia.or.id,
Pengkhianatan G-30-S PKI.
- ^ Ricklefs
1993, hlm. 230–260.
- ^ Dahm
1971, hlm. 225.
- ^ Roosa
2006, hlm. 36; Dahm
1971, hlm. 230.
- ^ Roosa
2006, hlm. 40.
- ^ Dahm
1971, hlm. 232.
- ^ Roosa
2006, hlm. 37.
- ^ Dahm
1971, hlm. 234–238.
- ^ Ricklefs
1993, hlm. 288–290.
- ^ Filmindonesia.or.id,
Pengkhianatan G-30-S PKI; Tempo
2012, Sosok 'Dalang'; Heider
1991, hlm. 101.
- ^ Sen
& Hill 2006, hlm. 147; Filmindonesia.or.id,
Pengkhianatan G-30-S PKI; McGregor
2007, hlm. 96–97
- ^ a b c d Merdeka
1998, Menyoal Pencabutan.
- ^ a b Heryanto
2006, hlm. 13.
- ^ Heryanto
2006, hlm. 13; Filmindonesia.or.id,
Kredit.
- ^ Tempo
2012, Sosok 'Dalang'; Kompas
1993, Film-film Sejarah Kontemporer
- ^ a b c McGregor
2007, hlm. 96–97.
- ^ Tempo
2012, Sosok 'Dalang'.
- ^ Tempo
2012, Proses Arifin C. Noer.
- ^ Kompas
1993, Rano Karno.
- ^ Filmindonesia.or.id,
Kredit.
- ^ a b Tempo
2012, 3 Pemeran Sentral.
- ^ Filmindonesia.or.id,
Pengkhianatan G-30-S PKI; Fathiyah
2012, Film Pengkhianatan G30S/PKI.
- ^ Filmindonesia.or.id,
Kredit; Republika
1997, Satu Perempuan.
- ^ a b Marselli
1984, Film Pengkhianatan G30S/PKI.
- ^ Mulligan
2005, hlm. 135.
- ^ Paramadhita
2011, Questions.
- ^ a b c McGregor
2007, hlm. 98–100.
- ^ Taum
2008, hlm. 29.
- ^ Sen
& Hill 2006, hlm. 147; Tempo
2012, Komentar Soeharto.
- ^ Heryanto
2006, hlm. 7.
- ^ Heryanto
2006, hlm. 6.
- ^ Tempo
2012, Komentar Soeharto.
- ^ a b Heryanto
2006, hlm. 198–199.
- ^ Filmindonesia.or.id,
Penumpasan.
- ^ Filmindonesia.or.id,
Djakarta 1966; Filmindonesia.or.id,
Penghargaan Djakarta 1966
- ^ Indrietta
2012, Film Pengkhianatan G30S/PKI 2; Sen
& Hill 2006, hlm. 148
- ^ a b Sen
& Hill 2006, hlm. 148.
- ^ Prijosusilo
2007, G30S.
- ^ Heryanto
2006, hlm. 50–51.
- ^ a b Sen
& Hill 2006, hlm. 149.
- ^ Heryanto
2006, hlm. 8.
- ^ Heryanto
2006, hlm. 14.
- ^ a b Sen
& Hill 2006, hlm. 162.
- ^ Filmindonesia.or.id,
Pengkhianatan G-30-S PKI; Rini
and Evan 2012, Tokoh di Balik Penghentian
- ^ Filmindonesia.or.id,
Janur Kuning; Filmindonesia.or.id,
Serangan Fajar.
- ^ Sijabat
2003, Indonesia.
- ^ Fathiyah
2012, Film Pengkhianatan G30S/PKI.
- ^ Tempo
2012, Sosok 'Dalang'; Sen
& Hill 2006, hlm. 148.
- ^ a b Indrietta
2012, Film Pengkhianatan G30S/PKI 2.
- ^ a b Indrietta
2012, Film Pengkhianatan G30S/PKI 1.
- ^ a b Sari
2012, Film Pengkhianatan G30S/PKI.
- ^ Revianur
2012, Korban 65.
- ^ Fathiyah
2012, Film Pengkhianatan G30S/PKI; Sari
2012, Film Pengkhianatan G30S/PKI.
- ^ Dwiharti
& Mulyani 2011, hlm. 241.
- ^ a b Filmindonesia.or.id,
Penghargaan.
- ^ Filmindonesia.or.id,
Penghargaan Budak Nafsu.
- ^ Filmindonesia.or.id,
Penghargaan Ponirah Terpidana.
- ^ Barker
2011, hlm. 18–19.
- "3 Pemeran Sentral di
Film Pengkhianatan G30S/PKI". Tempo (dalam
bahasa Indonesia). 29 September 2012. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- Barker,
Thomas (2011). "Mempertanyakan Gagasan 'Film Nasional'". Dalam
Cheng, Khoo Gaik; Barker, Thomas; Imanjaya, Ekky. Mau Dibawa ke
Mana Sinema Kita?. Jakarta: Salemba Humanika. ISBN 978-602-8555-38-8.
- Dahm,
Bernhard (1971). History of Indonesia in the Twentieth Century.
Praeger. OCLC 230842.
- "Djakarta 1966". filmindonesia.or.id (dalam
bahasa Indonesia). Jakarta: Yayasan Konfidan. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- Dwiharti,
Wieke; Mulyani, Ade (2011). Jakarta Panduan
Wisata Tanpa Mall (dalam bahasa Indonesia). Jakarta:
Gramedia. ISBN 978-979-22-5820-2.
- "Film-film
Sejarah Kontemporer: Bukan Sekadar Adegan Perang". Kompas (dalam
bahasa Indonesia). 1 Agustus 1993. hlm. 6.
- Fathiyah,
Alia (29 September 2012). "Film Pengkhianatan
G30S/PKI di Mata Para Pemeran". Tempo (dalam
bahasa Indonesia). Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- Heider,
Karl G (1991). Indonesian
Cinema: National Culture on Screen. Honolulu: University of Hawaii
Press. ISBN 978-0-8248-1367-3.
- Heryanto,
Ariel (2006). State Terrorism
and Political Identity in Indonesia: Fatally Belonging. New York: Routledge. ISBN 978-0-415-37152-0.
- "Historial [sic]
Exchange Rate Regime of Asian Countries". Chinese University of
Hong Kong. 2000. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 29 Desember 2012. Diakses tanggal 29
Desember 2012.
- Indrietta,
Nieke (29 September 2012). "Film Pengkhianatan
G30S/PKI di Mata Para Sineas". Tempo (dalam
bahasa Indonesia). Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- Indrietta,
Nieke (29 September 2012). "Film Pengkhianatan
G30S/PKI, Dicerca dan Dipuji". Tempo (dalam
bahasa Indonesia). Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- "Janur Kuning". filmindonesia.or.id (dalam
bahasa Indonesian). Jakarta: Yayasan Konfidan. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- "Komentar Soeharto Usai
Lihat Film Pengkhianatan G30S/PKI". Tempo (dalam
bahasa Indonesia). 29 September 2012. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- "Kredit Pengkhianatan
G-30-S PKI". filmindonesia.or.id (dalam bahasa
Indonesia). Jakarta: Yayasan Konfidan. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- Marselli
(31 Desember 1984). "Film Pengkhianatan G30S/PKI: Sebuah
Dokumentar yang Menyimpan Dendam". Kompas (dalam bahasa
Indonesia). hlm. VII.
- McGlynn,
John H; Sulistyo, Hermawan (2007). Indonesia in the
Soeharto Years: Issues, Incidents and Images. Jakarta: Lontar
Foundation. ISBN 978-9971-69-358-9.
- McGregor,
Katharine E (2007). History in Uniform:
Military Ideology and the Construction of Indonesia's Past.
Honolulu: University of Honolulu Press. ISBN 978-9971-69-360-2.
- "Menyoal
Pencabutan Tayangan Film G 30 S PKI: 'Arifin Gunakan Bahan dari Cornell
University'". Merdeka (dalam bahasa Indonesia). 1
September 1998. hlm. 8.
- Mulligan,
Diane (2005). "The Discourse of Dangdut: Gender and Civil Society in
Indonesia". Dalam Howell, Jude; Mulligan, Diane. Gender and Civil
Society: Transcending Boundaries. New York: Routledge. ISBN 978-1-134-30832-3.
- Paramadhita,
Intan (4 April 2011). "Questions
on witnessing violence". The Jakarta Post. Diarsipkan
dari versi
asli tanggal 28 Desember 2012. Diakses tanggal 28
Desember 2012.
- "Penghargaan Budak
Nafsu". filmindonesia.or.id (dalam bahasa
Indonesia). Jakarta: National Library of Indonesia and Sinamatek.
Diarsipkan dari versi
asli tanggal 14 November 2012. Diakses tanggal 14
November 2012.
- "Penghargaan Djakarta
1966". filmindonesia.or.id (dalam bahasa
Indonesia). Jakarta: Perpustakaan Nasional Indonesia dan Sinematek.
Diarsipkan dari versi
aslitanggal 26 Desember 2012. Diakses tanggal 26
Desember 2012.
- "Penghargaan
Pengkhianatan G-30-S PKI". filmindonesia.or.id (dalam
bahasa Indonesia). Jakarta: Yayasan Konfidan. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- "Penghargaan Ponirah
Terpidana". filmindonesia.or.id (dalam bahasa
Indonesia). Jakarta: Yayasan Konfidan. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- "Pengkhianatan G-30-S
PKI". filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesia).
Jakarta: Yayasan Konfidan. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- "'Pengkhianatan
G30S/PKI' Pecahkan Rekor Penonton DKI". Kompas (dalam
bahasa Indonesia). 31 Desember 1984. hlm. III.
- "Penumpasan Sisa-sisa PKI
Blitar Selatan (Operasi Trisula)". filmindonesia.or.id(dalam
bahasa Indonesia). Jakarta: Yayasan Konfidan. Diarsipkan dari versi
aslitanggal 26 Desember 2012. Diakses tanggal 26
Desember 2012.
- Prijosusilo,
Bramantyo (29 September 2007). "G30S a nagging wound
Indonesia eager to deny". The Jakarta Post.
Diarsipkan dari versi
asli tanggal 28 Desember 2012. Diakses tanggal 28
Desember 2012.
- "Proses Arifin C. Noer
Bikin Pengkhianatan G30S/PKI". Tempo (dalam
bahasa Indonesia). 29 September 2012. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- "Rano
Karno: Obsesi Terpendam tentang Betawi". Kompas (dalam
bahasa Indonesia). 27 Juni 1993. hlm. 7.
- Revianur,
Aditya (25 Juli 2012). "Korban
65: Film Pengkhianatan G30S/PKI Pembohongan Publik". Kompas (dalam
bahasa Indonesia). Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- Ricklefs,
M. C. (1993). A History of Modern Indonesia since c.1300 (edisi
ke-2nd). MacMillan. ISBN 978-0-333-57689-2.
- Rini
K; Evan (30 September 2012). "Tokoh di Balik
Penghentian Pemutaran Film G30S". Tempo (dalam
bahasa Indonesian). Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- Roosa,
John (2006). Pretext
for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto's Coup D'état in
Indonesia. Madison: University of Wisconsin Press. ISBN 978-0-299-22030-3.
- Sari,
Dianing (29 September 2012). "Film Pengkhianatan
G30S/PKI, Propaganda Berhasilkah?". Tempo (dalam
bahasa Indonesia). Diarsipkan dari versi
aslitanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- "Satu
Perempuan, Empat C. Noer". Republika Minggu (dalam
bahasa Indonesian). 30 Maret 1997. hlm. 7.
- Sen,
Krishna (1994). Indonesian Cinema: Framing the New Order.
Atlantic Highlands,: Zed Books. ISBN 978-1-85649-124-2.
- Sen,
Krishna; Hill, David T. (2006). Media, Culture and
Politics in Indonesia. Jakarta: Equinox Publishing. ISBN 978-979-3780-42-9.
- "Serangan Fajar". filmindonesia.or.id (dalam
bahasa Indonesia). Jakarta: Yayasan Konfidan. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- Sijabat,
Ridwan Max (15 Oktober 2003). "Indonesia yet to move on
from painful past". The Jakarta Post. Diarsipkan
dari versi
asli tanggal 28 Desember 2012. Diakses tanggal 28
Desember 2012.
- "Sosok 'Dalang' Film
Pengkhianatan G30S/PKI". Tempo (dalam bahasa
Indonesia). 29 September 2012. Diarsipkan dari versi
asli tanggal 25 Desember 2012. Diakses tanggal 25
Desember 2012.
- Taum,
Yoseph Yapi (2008). "Lubang Buaya: Mitos dan
Kontra-Mitos". Sintesis (dalam bahasa Indonesia).
Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. 6 (1):
14–39. ISSN 1693-749X.
- Vickers,
Adrian (2012). "Sakti Reconsidered: Power and the
Disenchantment of the World". Dalam Chua, Liana; Cook, Joanna; Long,
Nicholas; Wilson, Lee. Southeast Asian
Perspectives on Power. New York: Routledge. ISBN 978-1-136-33717-8.
KOMENTAR :
Menonton film
pengkhianatan G30S/PKI akan menjaga kesadaran kita bahwa apapun yang terjadi di
negara ini, tidak boleh ada sedikitpun ruang bagi ideologi komunis. Seperti
itulah pendapat senator DPD RI asal DKI Jakarta Fahira Idris.
Menyikapi pro
kontra yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini tentang pemutaran kembali
film tersebut Fahira menyatakan dukungan penuh pada setiap institusi menggagas
aktifitas nonton bersama film karya Arifin C Noer tersebut.
Ketua Umum Bang
Japar (Kebangkitan Jawara dan Pengacara) itu tidak rela jika anak-anak muda
penerus generasi bangsa lupa akan sejarahnya. “Anak-anak muda yang akan
melanjutkan estafet bangsa ini harus terus diingatkan bahwa ancaman untuk
merusak NKRI dan mengganti Pancasila akan terus ada selama republik ini
berdiri,” katanya lagi.
Fahira
mewanti-wanti agar anak-anak muda Indonesia jangan sampai berbangga diri
berdiskusi dan bicara komunisme sementara nun jauh waktu silam telah terjadi
kekejaman PKI di tanah air tercinta. “Anak-anak muda harus menyerap, dan
mengamalkan nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai agama dan harus terus
dibumikan,” terang Fahira.
Peristiwa berdarah
dan pembantaian yang kejam terhadap para jenderal tahun ’65 serta pemberontakan
tahun ’49 di Madiun sudah cukup menjadi dasar ideologi ini harus dilarang
sepanjang sejarah Indonesia selama negara ini masih berdiri tegak dalam
kemerdekaan.
KESIMPULAN :
Gerakan ini diawali
dengan dibentuknya Nasakom (nasionalisme,agamis dan komunisme) yang
mengakibatkan PKI semakin melebarkan sayapnya dalam politik Indonesia. Pada
awal agustus 1965 presiden soekarno menderita sakit keras dan di prediksikan
oleh tim dokter RRC bahwa ada 2 kemungkinan yang akan terjadi yakni kemungkinan
meninggal atau mengalami kelumpuhan.
Pada awal tahun 1965
terjadi banyak penyerbuan yang di lancarkan oleh PKI di sejumlah daerah di
Indonesia dengan melakukan penganiayaan dan sengketa tanah milik negara .
Sebenarnya pada desember
1964 ditemukan adanya dokumen tentang rencana perebutan kekuasaan yang akan
dilakukan PKI. Namun PKI menyatakan bahwa dokumen tersebut palsu dan berbalik
menuduh bahwa fitnah itu diciptakan oleh lawan politiknya yakni partai Murba.
Menurut saran perdana mentri RRC, PKI menuntut dibentuknya angkatan ke V dengan
mempersenjatai kaum buruh dan tani , namun tuntutan tersebut di tolak.
Menurut Letjen A. Yani,
pembentukan tersebut justru akan menimbulkan keruetan dalam garis komando dan
pengawasannya. Tututan ini tidak lepas dari janji perdana mentri RRC yang akan
memberikan 100.000 pucuk senjata ringan secara cuma-cuma. Walau tuntutan itu
ditolak, dalam praktiknya 100.000 pucuk senjata itu tetap diberikan kepada kaum
buruh dan tani.
Atas penolakan dari
pimpinan AD , PKI mencurigai angkatan darat merupakan kekuatan terbesar yang
akan menghalangi PKI , oleh karna itu diciptakan isu tentang adanya deqan
jendral yangdikatakan akan melaksanakan gup.
Pada agustus 1965 PKI
mengadakan rapat guna merancang rencana dalam aksinya dengan dalih ingin
menyelamatkan NKRI dengan memberantas dewan qan jendral. Pada akhir september
disusun rencana penculikan jendral yang dipimpin oleh Letkol Untung pada pukul
3 dini hari.
Jendral TNI Abdul Haris
Nasution yang menjadi aasaran utama selamat dari upaya pembunuhan tersebut,
sebaliknya putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya tewas dalam usaha
pembunuhan tersebut. Dari ke 6 jendral yang berhasil di bawa , 3 diantaranya
meninggal di tembak di kediaman mereka dan 3 yang laim di bawa ke tempat
eksekusi.
Ke enam jendral tersebut
adalah 1. Letjen TNI A. Yani 2. Mayjen TNI Raden Suprapto 3. Mayjen TNI
Tritodarmo 4. Mayjen TNI Siswondo Parman 5. Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan
6. Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo Dalam insiden penganiayaan yang dilakukan
oleh PKI tersebut, PKI memaksa para Jendral untuk menandatangani atau menyetujui
surat yang isinnya bahwa dewan jendral itu ada. Para jendral tersebut menolak
,akibatmya pengamiayaan yang dilakukan PKI semakin menjadi.
Penganiayaan itu juga
dilakukan oleh Gerwani ( Gerakan Wanita Indonesia ), dengan menyayat tubuh
Jendral dengan silet, celurit, dan pisau juga diiringi dengan tembakan-tembakan
. Mirisnya saat insiden itu berlangsung para pendukung PKI bersorak ria dengan
menyanyikan lagu "genjer-genjer".
Setelah PKI dengan
brutal menyiksa para Jendral , jasad mereka masuk disusul dengan tembakan dari
atas oleh PKI dan ditimbun sampah serta ditimbun pohon pisang.
Setelah pembunuhan
tersebut PKI berhasil menguasai saran komunikasi yaitu radio RRI dan menyiarkan
bahwa PKI berhasil menyelamatkan bung Karno dan NKRI ,serta dibentuknya
"Dewan Revolusi" yang diketuai oleh Letkol Untung. Dalam penyiaran
ini sejatinya penyiar radio dipaksa dan ditodong senjata.
Lambat laun PKI
dinyatakan terbukti bersalah pada peristiwa tersebut. Akan tetapi presiden
Soekarno tidak segera melakukan penyelesaian politik yang memuaskan . Hari-hari
itu di Jakarta dipenuhi demonstrasi mahasiswa yang bergabung dalam KAMMI dan
KAPPI. Mereka mencetuskan tritura yakni, pembubaran PKI, perombakan kabinet dan
penurunan harga.
Sewaktu keadaan genting
akhirnya presiden Soekarno memberikan wewenang SUPERSEMAR pada Letjen Soeharto.
Berdasarkan wewenang itu pada 12 maret 1966, dengan mengatasnamakan presiden
Soekarno , Letjen Soeharto mengeluarkan keputusan presiden no.1/3/1966 perihal
pembubaran PKI. Isinya yaitu pembubaran PKI termasuk bagian-bagiannya dan
Soeharto menyatakan bahwa PKI sebagai organisasi terlarang diseluruh Indonesia.
Pemberantasan tersebut beserta anak cucu mereka dan sampai keakar-akar PKI.
#HARGAILAH PERJUANGAN PARA PAHLAWAN YG RELA BERKORBAN DEMI MASA DEPAN KITA SAAT INI.HARGAI DAN CINTAI.
#HARGAILAH PERJUANGAN PARA PAHLAWAN YG RELA BERKORBAN DEMI MASA DEPAN KITA SAAT INI.HARGAI DAN CINTAI.
Komentar
Posting Komentar